Rabu, 03 Juli 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR BANK TABUNGAN NEGARA HARMONI, JAKARTA

Nama Bangunan Baru      : Bank Tabungan Negara Harmoni
Nama Bangunan Lama     : Postpaarbank
Alamat                            : Jln Gajah Mada No. 1 Kel. Petojo Utara
Wilayah                           : Kec. Gambir, Jakarta Pusat (Jakarta 10130)
Arsitektur                        : Gaya Nieuwe Kunst.
Arsitek                             : Ir. J. van Gendt.
Pemilik                            : PT. Bank Tabungan Negara

Postpaarbank Tahun 1930

Gedung Bank Tabungan Negara (BTN) Tahun 2019


Dibangun pada tahun 1930, diatas bekas lokasi Pos Keamanan “Rijswijk”, sekarang dipergunakan sebagai Gedung Bank Tabungan Negara (BTN), kelompok gedung ini sebagian sudah dibongkar dan yang dipertahankan hanya bagian depannya, digunakan sebagai museum BTN. Bagian bangunan yang menjadi bangunan cagar budaya adalah gedung yang lama (Museum BTN).

KONSERVASI ARSITEKTUR GEDUNG CANDRA NAYA, JAKARTA

GEDUNG CANDRA NAYA JAKARTA

Tampak Depan Gedung Candra Naya


Nama Bangunan : Gedung Candra Naya
Alamat : Jl. Gajah Mada no. 188 | RT.3/RW.5, GlodokJakarta, Indonesia
Candra Naya adalah sebuah bangunan cagar budaya di daerah Jakarta, Indonesia, yang merupakan bekas kediaman Mayor Khouw Kim An, mayor Tionghoa (majoor de Chineezen) terakhir di Batavia (1910-1918 dan diangkat kembali 1927-1942), setelah Mayor Tan Eng Goan (1837-1865), Tan Tjoen Tiat (1865-1879), Lie Tjoe Hong (1879-1895) dan Tio Tek Ho (1896-1908). Bangunan seluas 2.250 meter persegi ini memiliki arsitektur Tionghoa yang khas dan merupakan salah satu dari dua kediaman rumah mayor Tionghoa Batavia yang masih berdiri di Jakarta.
Tidak ada catatan pasti yang menandakan tahun pendirian gedung Candra Naya, namun diperkirakan bangunan ini didirikan pada tahun Dingmao (tahun kelinc api), yaitu 1807, oleh Khouw Tian Sek untuk menyambut kelahiran anaknya, Khouw Tjeng Tjoan, pada 1808. Atau, versi lain dari sejarah gedung ini adalah bangunan tersebut didirikan oleh Khouw Tjeng Tjoan pada 1867 yang juga merupakan tahun Dingmao (tahun kelinci api).
Gedung Candra Naya beralamat di Jl . Gajah Mada No 188, Jakarta Barat. Gedung Candra Naya sempat terlantar sebelum dibeli Modern Group pada 1992, membuat gedung ini kini dikepung bangunan superblok dan hotel di depannya. Jadi,  superbloc Novotel Hotel dapat dijadikan patokan, masuklah kedalam Hotel tersebut untuk menemukan sebuah rumah megah dengan arsitektur Cina  persis di tengahnya.
Usulan merelokasi Candra Naya ke TMII pada 2003 ditolak Gubernur DKI Sutiyoso, sehingga Candra Naya menjadi bagian heritage di kompleks hunian dan komersial terpadu Green Central City (GCC). Jika bukan dibangun pada tahun kelinci 1867 oleh Khouw Tjeng Tjoan, maka Candra Naya dibangun Khouw Tian Sek pada tahun kelinci 1807 untuk menyambut kelahiran puteranya pada 1808. Perkiraan dibangunnya Candra Naya pada tahun kelinci itu berasal dari lukisan dengan tulisan memakai karakter Han yang berarti “Pada musim gugur di tahun kelinci”.
Restoran Gedung Candra Naya


Halaman Gedung Candra Naya


KONSERVASI ARSITEKTUR GEDUNG JOANG 45, JAKARTA

GEDUNG JOANG 45

Tampak Depan Gedung Joang 45


Merupakan bangunan museum yang fungsi mulanya pada saat pertama dibangun ialah hotel, yang dikelola oleh seorang berkebangsaan Belanda. Hotel tersebut saat itu termasuk yang cukup baik dan terkenal di kawasan pinggiran Selatan Batavia, dengan bangunan utama yang berdiri megah di tengah dan diapit deretan bangunan kamar-kamar penginapan di sisi kiri dan kanannya untuk menginap para tamu.
Kamar Hotel Gedung Joang 45

Bangunan ini bergaya klasik Belanda yang dicampur dengan budaya etnik Batavia, bisa dilihat dari penggunaan reiling dengan ornament, lisplang, juga penopang atap yang menempel pada tiang.

KONSERVASI ARSITEKTUR MUSEUM PERUMUSAN NASKAH PROKLAMASI

MUSEUM NASKAH PROKLAMASI

 Tampak Depan Museum Proklamasi 

Gedung ini didirikan sekitar tahun 1920 dengan arsitektur Eropa (Art Deco), dengan luas tanah 3.914 meter persegi dan luas bangunan 1.138 meter persegi. Pada tahun 1931, pemiliknya atas nama PT Asuransi Jiwasraya. Ketika pecah Perang Pasifik, gedung ini dipakai British Consul General sampai Jepang menduduki Indonesia.

Bangunan yang dulunya merupakan rumah kediaman laksamana Maeda ini terlihat besar dengan sedikit ornament klasik bahkan hampir tidak ada. Bangunan ini banyak menggunakan jendela tunggal panjang dengan pola kotak-kotak dengan kusen dicat kuning muda. Penggunaan bentuk atap trapezium untuk menambah kesan megah.


Museum Proklamasi 

KONSERVASI ARSITEKTUR GEREJA St. THERESIA, JAKARTA

GEREJA St. THERESIA

Gereja St. Theresia Dahulu

Pada tahun 1930 kota Jakarta (Batavia) diperluas dengan mengembangkan kawasan Menteng dan Gondangdia. Umat Katolik yang mendiami kedua kawasan tersebut harus berjalan kaki cukup jauh bila akan mengikuti misa di gereja Katedral. Pengurus Gereja Katedral lalu mencari lahan sampai akhirnya ditemukan sebidang tanah di Jl. Soendaweg (sekarang Jl. Gereja Theresia) untuk dibangun gereja.


Gereja St. Theresia Sekarang

Gereja Theresia mempunyai 3 pintu, diatas setiap pintu terdapat jendela besar. Jendela besar diatas pintu utama menggambarkan St.Theresia, sedang yang diataspintu samping menggambarkan St.Ignatius de Loyola (pendiri Serikat Jesus) dan St. Fransiscus Xaverius (pelindung Misi). Dibelakang altar pun terdapat jendela yang ukurannya lebih kecil dari jendela-jendela yang disebutkan diatas, jendela-jendela ini berjumlah 13 dimana yang ditengah menggambarkan Yesus dan kanan kirinya menggambarkan keduabelas Rasul.

KONSERVASI ARSITEKTUR, VILLA ISOLA BANDUNG

VILLA ISOLA, BANDUNG

Villa Isola, Bandung

Villa Isola, Bandung adalah bangunan villa yang terletak di kawasan pinggiran utara Kota Bandung. Berlokasi pada tanah tinggi, di sisi kiri jalan menuju Lembang (Jln. Setiabudhi).  Villa Isola adalah salah satu bangunan yang dibangun pada tahun 1932 bergaya Arsitektur Art Deco yang banyak dijumpai di Bandung, yang merupakan salah satu dari karya arsitek terkenal dari Belanda C.P Schoemaker.

SEJARAH
Kawasan Villa Isola, Bandung

Di awal tahun 30-an seluruh dunia mengalami krisis global, termasuk indonesia yang pada saat itu perekonomian indonesia di bawah kendali belanda. Tapi krisis tersebut tidak berpengaruh bagi seseorang yang bernama Dominique Willem Berrety yang merupakan keturunan campuran jawa-itali. Dia mulai mambangun Villa Isola dengan biaya yang sangat fantastik yaitu 500.000 gulden (sekitar 250 Milyar rupiah). Dari jaman dahulu sampai sekarang Bandung terkenal dengan udaranya yang sangat sejuk, terlebih daerah Bandung utara atau Lembang sekitarnya, dari situlah Berretty memilih tempat yang tepat untuk membangun sebuah vila.
Villa Isola dibangun di atas tanah seluas ± 1 hektar yang mencakup bangunan, taman, kolam, dan kebun anggur. Villa Isola di bangun dengan waktu yang sangat singkat Oktober 1932 sampai Maret 1933. Schoemaker dikenal sebagai Arsitek Art Deco yang mahir menyelaraskan arsitektur eropa dengan lingkungan tropis dan keahliannya dalam memadukan elemen dekoratif kuno dengan arsitektur modern, sehingga dia dikenal sebagai arsitek terbaik pada masa itu.
Villa Isola selesai dibangun 1933, namun tragis bagi pemiliknya yang bernama Berretypada tanggal 20 Desember 1934 ia meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat yang ia naiki dalam penerbangan regular Pesawat Uiver dari Amsterdam menuju Batavia. Setelah Beretty meninggal, Villa ini dibeli oleh Savoy Homann untuk menjadi bagian dari hotel tersebutPada masa kemerdekaan, bangunan ini menjadi markas tentara Jepang dan pernah menjadi markas tentara pejuang kemerdekaan. Pada tanggal 20 Oktober 1954, gedung ini diserahkan oleh Perdana Menteri Ali Sastroamidjodjo kepada Menteri Pendidikan Muhammad Yamin sebagai gedung utama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG), dan peristiwa ini menandai berdirinya PTPG. PTPG kemudian berangsur-angsur berkembang dan berubah menjadi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan dari Universitas Padjadjaran (1958), kemudian menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (IKIP Bandung, 1963) sampai akhirnya sekarang menjadi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI, 1999). 
Pada masa pendudukan Jepang, Gedung ini sempat digunakan sebagai kediaman sementara Jenderal Hitoshi Imamura saat menjelang Perjanjian Kalijati dengan Pemerintah terakhir Hindia Belanda di Kalijati, Subang, Maret 1942. Tentara Indonesia kemudian berhasil merebut Villa Isola. Semenjak itulah nama Villa Isola berubah menjadi Bumi Siliwangi yang mengandung arti rumah pribumi. Saat itu keadaan Villa Isola atau Bumi Siliwangi berupa puing-puing bangunan yang telah hancur dibeberapa bagian. Pada tahun 1954 Villa Isola dibeli pemerintah Indonesia seharga Rp 1.500.000. Vila Isola atau Bumi Siliwangi itu pun kemudian dijadikan gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). PTPG ini merupakan cikal bakal dari IKIP atau UPI Bandung saat ini. Semenjak tahun 1954 Villa Isola menjadi kantor rektorat dan juga ruang kelas sekaligus. Tahun 1963 PTPG pun berubah menjadi IKIP Bandung. Sampai saat ini Rektor, Pembantu Rektor dan Sekretariat Universitas ma ih menempati Villa Isola.
ARSITEKTUR BANGUNAN
Gedung ini berarsitektur modern dengan memasukkan konsep tradisional dengan filsafat arsitektur Jawa bersumbu kosmik utara-selatan. Orientasi kosmik ini diperkuat dengan taman memanjang di depan gedung ini yang tegak lurus dengan sumbu melintang bangunan ke arah Gunung Tangkuban Perahu. Bangunan ini terdiri dari 3 lantai, dengan lantai terbawah lebih rendah dari permukaan jalan raya, disebabkan karena topografinya tidak rata.
PELETAKKAN MASSA
Dalam meletakkan massa Villa Isola, Schoemaker menggunakan sumbu imajiner utara-selatan dengan arah utara menghadap Gunung Tangkuban Perahu dan arah selatan menghadap Kota Bandung. Penggunaan sumbu utara-selatan dengan berorientasi pada sesuatu yang sakral (gunung atau laut) merupakan orientasi kosmis masyarakat di Pulau Jawa.
Taman Utara Villa Isola, Bandung

Taman Selatan Villa Isola, Bandung
Villa Isola terletak di antara dua taman yang memiliki ketinggian berbeda. Taman di bagian selatan lebih rendah daripada taman di bagian utara. Taman di utara didesain dengan menghadirkan nuansa Eropa di dalamnya. Hal ini diperkuat dengan kolam berbentuk persegi dengan patung marmer di tengahnya. Pada taman ini terdapat jalur yang merupakan as yang membagi taman menjadi dua bagian simetris. Mendekati bagian utara bangunan, akan terlihat tangga berbentuk setengah lingkaran yang titik pusatnya berada pada bangunan.
Hal serupa juga diterapkan pada taman bagian selatan. Pengolahan bentuk anak tangga setengah lingkaran berpusat pada bangunan Villa Isola. Kedua taman yang memiliki perbedaan ketinggian dihubungkan dengan dua tangga melingkar pada sisi barat dan timur bangunan. Pengolahan taman dengan menggunakan bentuk melingkar yang berpusat pada bangunan yang juga memiliki bentuk melingkar, menjadikan bangunan menyatu dengan lahan di sekitarnya.
FASAD DAN INTERIOR 
Tampak depan Villa Isola, Bandung (Sekarang)

Villa Isola, Bandung (Dahulu)

Bagian villa yang menghadap utara dan selatan digunakan untuk ruang tidur, ruang keluarga, dan ruang makan, masing-masing dilengkapi jendela dan pintu berkaca lebar, sehingga penghuni dapat menikmati pemandangan indah di sekitarnya. Pemandangan indah ini juga dapat diamati dari teras yang memanfaatkan atap datar dari beton bertulang di atas lantai tiga.
Pada taman belakang terdapat kolam dengan pergola untuk bunga dan dilengkapi dengan lapangan tenis. Di depan sebelah utara jauh terpisah dari bangunan utama ditempatkan unit pelayanan terdiri dari garasi untuk beberapa mobil, rumah sopir, pelayan, gudang dan lain-lain.
Pintu gerbang masuk ke komplek villa ini terbuat dari batu yang dikombinasikan dengan besi membentuk bidang horisontal dan vertikal. Setelah melalui gapura dan jalan aspal yang cukup lebar, terdapat pintu masuk utama yang dilindungi dari panas dan hujan dengan portal datar dari beton bertulang. Mengikuti lengkungan-lengkungan pada dinding, denah portal juga melengkung berupa bagian dari lingkaran pada sisi kanannya. Ujung perpotongan kedua lengkungan disangga oleh kolom tunggal yang mirip dengan bagian rumah Toraja ( tongkonan ). Setelah melalui pintu utama terdapat vestibulae sebagaimana rumah-rumah di Eropa umumnya.

Lobby Villa Isola, Bandung
Ruang penerima ini terdapat di balik pintu masuk utama selain berfungsi untuk tempat mantel, payung tongkat dan lain lain juga sebagai ruang peralihan antara ruang luar dengan ruang di dalam. Dari vestibula ke kiri dan ke kanan terdapat tangga yang melingkar mengikuti bentuk gedung secara keseluruhan. Tangga ini terus-menerus sampai ke atap.
Ruang-ruang seperti diekspresikan pada wajah gedung bagian utara (depan) maupun selatan (belakang) juga simetris. Ruang-ruang yang terletak di sudut, dindingnya berbentuk 1/4 lingkaran. Lantai paling bawah digunakan untuk rekreasi, bermain anak-anak dilengkapi dengan mini bar langsung menghadap ke teras taman belakang. Selain itu pada bagian ini, terdapat juga ruang untuk kantor, dapur, kamar mandi dan toilet. Di atasnya adalah lantai satu yang langsung dicapai dari pintu masuk utama. Pada lantai ini, di belakang vestibule terdapat hall cukup besar, permukaannya sedikit lebih rendah, karena itu dibuat tangga menurun. Kemudian setelah tangga langsung ke salon atau ruang keluarga yang sangat luas. Antara hall dan salon dipisahkan oleh pintu dorong sehingga bila diperlukan, kedua ruangan ini dapat dijadikan satu ruang yang cukup luas. Jendela pada ruangan ini juga mengikuti dinding yang berbentuk lingkaran sehingga dapat leluasa memandang kota Bandung. Ruang makan terletak di sebelah kiri (barat) salon. Di sebelah kanan (timur) ruang makan terdapat ruang kerja lengkap dengan perpustakaan dan ruang ketik di belakangannya (utara). Semua ruang berjendela lebar kecuali untuk menikmati pemandangan luar, juga sebagai ventilasi dan saluran sinar matahari. Pembukaan jendela, pintu yang lebar merupakan penerapan konsepsi tradisional yang menyatu dengan alam.
Semua ruang tidur ditempatkan pada lantai dua berjejer dan berhadapan satu dengan lainnya yang masing masing dihubungkan dengan gang di tengah. Pembagian ruang tidur dilakukan secara simetris. Di sebelah selatan terdapat ruang tidur utama, tengah utara untuk ruang keluarga dan di sebelah barat dan timur terdapat lagi kamar tidur. Masing-masing kamar mempunyai teras atau balkon. Kamar tidur utama sangat luas dengan ruang pakaian dan toilet di kiri kanannya. Antara ruang tidur utama dan teras terdapat pintu dorong selebar dinding sehingga apabila dibuka teras menyatu dengan kamar tidur, menghadap ke arah kota Bandung. Untuk melindungi teras dan ruang tidur dari air hujan, dibuat tritisan dari kaca disangga dengan rangka baja.
Bentuk ruang keluarga identik dengan ruang tidur utama, dengan latar belakang ke arah utara, sehingga Gunung Tangkuban Parahu menjadi vistanya. Di atas ruang-rung tidur terdapat lantai tiga yang terdiri atas sebuah ruang cukup luas untuk pertemuan atau pesta, kamar tidur untuk tamu, sebuah bar, dan kamar mandi serta toilet tersendiri. Sama dengan ruang lainnya, ruang ini memiliki teras, jendela dan pintu dorong lebar. Di atas lantai tiga berupa atap datar yang digunakan untuk teras. Semua perabotan dan kaca tritisan diimpor dari Paris, Perancis.
Bangunan ini ada tendensi horisontal dan vertikal yang ada pada arsitektur India yang banyak berpengaruh pada candi-candi di Jawa. Dikatakannya dalam arsitektur candi maupun bangunan tradisional, keindahan ornamen berupa garis-garis molding akan lebih terlihat dengan adanya efek bayangan matahari yang merupakan kecerdikan arsitek masa lampau dalam mengeksploitasi sinar matahari tropis.
Schoemaker banyak memadukan falsafah arsitektur tradisional dengan modern dalam bangunan ini. Secara konsisten, ia menerapkannya mulai dari kesatuan dengan lingkungan, orientasi kosmik utara selatan, bentuk dan pemanfaatan sinar matahari untuk mendapat efek bayangan yang memperindah bangunan. 
Seperti pintu masuk utara, pintu masuk selatan berhadapan langsung dengan taman. Pengolahan lahan, taman, dan elemen-elemennya turut mendukung keunikan Villa Isola terutama dari segi bentuk. Semuanya itu menyuarakan satu bentuk: BUNDAR
Ruang Kerja di Villa Isola, Bandung

Ruang Makan di Villa Isola, Bandung

Ruang Bersantai di Villa Isola, Bandung

Ruang Tamu di Villa Isola, Bandung

TAHAP PEMUGARAN 
Pada tahun 1954 Villa Isola pun dibeli pemerintah Indonesia seharga Rp 1.500.000. Villa Isola atau Bumi Siliwangi itu pun kemudian dijadikan gedung Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG). PTPG ini merupakan cikal bakal dari IKIP atau UPI Bandung saat ini.
Semenjak tahun 1954 Villa Isola menjadi kantor rektorat dan juga ruang kelas sekaligus. Tahun 1963 PTPG pun berubah menjadi IKIP Bandung. Sampai saat ini Rektor, Pembantu Rektor dan Sekretariat Universitas masih menempati Villa Isola.
Kini pihak UPI sedang melakukan pembangunan revitalisasi “Isola Heritage” yang dimulai sejak tahun 2009 yang direncanakan selesai pada tahun 2011. Isola Heritage akan mencakup dan memakan lahan 2 ha. Biaya yang dikeluarkan untuk proyek ini pun tidak tanggung-tanggung yaitu berkisar antara 4-5 miliar rupiah. Kawasan Isola Heritage ini memiliki konsep eduturisme karena menggabungkan hutan kota sekaligus sebagai areal penelitian. Didukung dengan botanical garden, diharapkan Isola Heritage pun dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Proses revitalisasi Gedung Isola diantaranya dengan pemugaran taman dan kolam serta penambahan monumen pendidikan dan gedung informasi di sekitarnya. Isola Heritage akan jadi kawasan cagar budaya yang dapat dinikmati seluruh kalangan sebagai bagian dari wisata pendidikan.  Karena ini merupakan publik area, siapa pun boleh datang ke sini tidak terbatas untuk internal UPI saja.

Sumber:
http://sitiyuliani-arsitekturr.blogspot.co.id/2015/03/konservasi-arsitektur-pada-kawasan-jawa.html
https://id.wikipedia.org/wiki/Villa_Isola
http://hotcaramel-s.blogspot.co.id/2015/03/konservasi-arsitektur-villa-isola.html



Selasa, 02 Juli 2019

KONSERVASI ARSITEKTUR COLOSSEUM, ITALIA

COLOSSEUM, ROMA, ITALIA

Colosseum, sebuah bangunan besar dan bersejarah yang terletak di Roma, Italia. Bangunan ini di bangun pada masa Kaisar Vespasian. Selesai dibangun pada 80 Masehi, mempunyai (kurang lebih) 50.000 tempat duduk penonton untuk menonton berbagai macam pertunjukaN seperti “gladitorial contest” dan “public spectacles”.



SEJARAH

Colosseum, Italia

Sejarah Colosseum dimulai di Roma ketika melawan gladiator pertama tercatat adalah dipentaskan di 264AD. Decimus Junius Brutus Scaeva mengenakan tempur gladiator untuk menghormati memori dari almarhum ayahnya yang adalah seorang konsul Junius Brutus bernama D. Pera. Tiga pasang budak, yang dipilih dari antara 22 tawanan perang, dipilih untuk melawan. Perjuangan gladiator pertama terjadi di Boarium Forum, sebuah pasar ternak, terletak di dekat Sungai Tiber antara Capitoline, bukit-bukit Palatine dan Aventine. Karena ini adalah pemakaman seorang bangsawan terkemuka dan diadakan di sebuah ruang publik, acara ini mungkin telah menarik kerumunan besar. Ini memerangi gladiator pertama adalah gagasan cerdas karena juga membawa prestise politik untuk keluarga mereka ¹ nama. Jadi sejarah pertempuran gladiator dan oleh karena itu Colosseum adalah berkaitan dengan pemakaman. 
Sejarah memerangi Colosseum dan gladiator berhubungan dengan pemakaman Romawi, karena Agama Romawi berkisar menyembah berbagai dewa dan dewi dan keyakinan mereka di akhirat. Roma percaya bahwa pengorbanan manusia di pemakaman orang yang meninggal itu akan menenangkan dewa-dewa kafir dan memastikan pintu masuk ke akhirat memuaskan. Kebiasaan sebelumnya mengorbankan tahanan di makam prajurit atau bangsawan diikuti oleh Roma. Upacara terhubung dengan orang mati berlangsung selama sembilan hari setelah pemakaman, pada akhir waktu yang mengorbankan dilakukan. Bangsa Romawi percaya bahwa “jiwa-jiwa orang mati yang propitiated oleh darah manusia …” Persiapan untuk upacara pemakaman Romawi terlibat tawanan atau budak yang dibeli, dilatih untuk membunuh dan kemudian dikorbankan selama ritual pemakaman. Seram ritual, atau upacara kurban, adalah disebut munus – tugas dibayarkan kepada nenek moyang mati oleh keturunannya, dengan maksud menjaga hidup ingatannya. Pada upacara ini budak atau pelayan menghadiri pemakaman berpakaian seperti Pluto atau Charon yang dewa-dewa orang mati. Para dewa Charon mengangkut mati di Styx dan seorang pembantu, memainkan peran Charon, simbolis terbawa tubuh para gladiator mati selama upacara keagamaan. Simbolisme ini dialihkan ke Colosseum Romawi ketika gladiator tewas dikawal oleh seorang tokoh menggambarkan Charon dari arena. 
Perjuangan gladiator pertama sukses sehingga aristokrat Romawi segera ditiru ide. Game pemakaman ini, atau Munera, diadakan setiap tahun atau setiap lima tahun untuk tujuan menjaga memori orang mati masih hidup. Peristiwa tumbuh lebih besar dan lebih rumit dan di pemakaman P. Licinius Crassus, yang telah Pontifex Maximus seratus dua puluh gladiator bertempur dan permainan pemakaman dirayakan selama tiga hari, pada akhir suatu perjamuan yang diberikan publik di forum . Keluarga Romawi terkemuka bersaing terhadap satu sama lain untuk menghasilkan permainan terbaik. Apa yang dimulai dengan Decimus Junius Brutus Scaeva pengorganisasian tiga pertandingan sebagai permainan pemakaman berubah menjadi pertunjukan publik. Yang diselenggarakan oleh Julius Caesar, pada kematian putrinya Julia, ditampilkan 320 pertandingan gladiator dipasangkan. 
Sejarah dan konsep Colosseum tumbuh dari kebiasaan game pemakaman. Permainan pemakaman diselenggarakan sebagai peristiwa publik oleh bangsawan Romawi yang kaya dan bangsawan. Permainan Gladiator yang populer dengan ‘gerombolan’. Pada awalnya game gladiator, atau memerangi, diadakan di arena kayu kecil. Kata “arena” berarti pasir, referensi ke lapisan tebal pasir di lantai untuk tujuan menyerap darah. Tetapi karena popularitas permainan tumbuh amphitheatres besar dibangun ke rumah permainan. Para amphitheatres itu bulat atau oval. Desain mereka diambil dari bergabung dengan dua teater setengah lingkaran kayu bersama-sama (kata “amphi” berarti ‘kedua belah pihak’).

SEJARAH PENAMAAN

Nama dari Koloseum seperti pada di atas diambil dari nama sebuah patung setinggi 130 kaki atau 40 m, Colossus. Patung Colossus dibuat ulang sebagai pengganti Nero sebagai perumpamaan dari Sol dewa matahari, dengan menambahkan mahkota matahari. Di waktu pertengahan tahun, patung colossus telah menghilang. Seorang ahli mengatakan bahwa sejak patung itu terbuat dari tembaga, patung itu telah dileburkan untuk digunakan kembali.
Selain diambil dari nama Koloseum, Koloseum juga disebut sebagai Flavian Amphitheatre yang tidak diketahui siapa yang memberi nama itu. Di Itali, Koloseum diberi nama il colosseo tapi bahasa Roma lainnya menggunakan nama le colisée dan el coliseo untuk menyebutkan Colosseum.

Coloseum berukuran cukup besar. Dengan tinggi 48 m, panjang 188 m, lebar 156 m dan luas seluruh bangunan sekitar 2.5 ha membuat Koloseum terlihat begitu besar dan luas. Arenanya terbuat dari kayu berukuran 86 m x 54 m, dan tertutup oleh pasir. Bentuk elips ataubulat dari Koloseum gunanya untuk mencegah para pemain untuk kabur ke arah sudut dan mencegah para penonton untuk berada lebih dekat dengan pertunjukan.

Koloseum merupakan hasil karya yang sangat hebat. Tempat itu dikatakan sebagai stadium yang hebat dan spektakuler dikarenakan oleh bentuk dan struktur dari Koloseum itu. Sampai sekarang pun, Koloseum masih dikatakan sebagai stadion yang hebat dan spektakuler. Tempat duduk di Koloseum dibagi menjadi tingkatan-tingkatan yang berbeda berdasarkan status sosial dalam masyarakat Romawi.

Old Colosseum, Italia

Podium utama di yang terletak di bagian utara dan selatan untuk Kaisar dan keluarganya, pada tempat ini memberikan pemandangan yang terbaik dilihat dari arena, terdapat tempat istirahatnya, tempat penyimpanan harta juga berada di tingkat ini. Kemudian pada tingkat yang sama dengan platform yang lebih luas merupakan podium khusus untuk parasenator Roman, yang boleh membawa kursi sendiri. Nama-nama beberapa senator masih dapat dilihat dari ukiran pada batu yang menjadi tempat duduknya.
Pada tingkat berikutnya disebut maenianum primum, yang dikhususkan untuk parabangsawan Roman. Selanjutnya pada tingkat ketiga adalah maenianum secundum yang dibagi-bagi lagi menjadi tiga bagian. Bagian paling bawah (immum) digunakan untuk para orang kaya, di bagian atasnya lagi (summum), digunakan untuk rakyat jelata. Dan yang terakhir, di bagian kayu (maenianum secundum in legneis) adalah tempat yang strukturnya dari kayu di paling atas bangunan. Tempat itu merupakan tempat untuk berdiri saja yang digunakan untuk para wanita rendahan.


Pertunjukkan di Colosseum


Setelah 2 tahun Koloseum digunakan sebagai tempat pertunjukan, Anak termuda Vespasian yang bernama Domitian memerintahkan untuk mengkonstruksikan area bawah tanah (hypogeum), dua tingkat jalur bawah tanah yang saling berhubungan berupa terowongan dan kurungan dimana para gladiator dan binatang ditempatkan sebelum pertarungannya dimulai. Disana juga disediakan jebakan-jebakan berupa pintu jebakan yang digunakan untuk mencegah masuknya hewan-hewan buas yang tidak direncanakan ke arena dan untuk menjaga tempat penyimpanan senjata di dalam koloseum tersebut.
Arsitek                   : Chikippa
Lokasi                    : Roma, Italia
Tahun pembuatan  : 70-82 M
Tipe bangunan       : Amphiteater/ Gedung pertunjukkan besar
Warna bangunan    : Urban
Gaya Bangunan      : Roman Kuno


Rekonstruksi Colosseum
RE-KONSTRUKSI 
Rekonstruksi Koloseum dimulai dari perintah Raja Alfero gilberto tahun 72 M dan terselesaikan oleh anaknya Titus pada tahun 80 M. Colosseum didirikan berdekatan dengan sebuah istana megah yang sebelumnya dibangun Nero, yang bernama Domus Aurea yang dibangun sesudah kebakaran besar di Roma pada tahun 64 M. Dio Cassius seorang ahli sejarah mengatakan bahwa ada sekitar 9000 hewan buas yang telah terbunuh di 100 hari sebagai perayaan peresmian dan pembukaan Colosseum tersebut. Lantai dari arena Colosseum tertutupi oleh pasir untuk mencegah agar darah-darah tidak mengalir kemana-mana

Sumber:          
https://id.wikipedia.org/wiki/Koloseum\

http://menyerap.blogspot.co.id/2013/04/sejarah-colloseum-roma-dan-fakta.html